Bulan Juli ini merupakan bulan awal dimulainya peningkatan prestasi UNGGUL baik akademik maupun non akademik-bakat minat ke tingkat internasional bagi civitas akademika Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis FISIP Unila di tahun 2025. Kali ini, Azareel Cristian Caesar Ginting (2416051004) bersama tim-nya berhasil mengukir prestasi internasional dengan memperoleh Silver Award pada The 4th Graduate Digital Invention, Innovation & Design (GDIID) dari Faculty of Computer and Mathematical Sciences, Universiti Teknologi MARA Cawangan Terengganu, Malaysia pada 1 Juli 2025. GDIID merupakan ajang lomba international science dan technology dalam bentuk tulisan (paper) inovatif disertai vidio grafis tentang paper tersebut. Arel, panggilan akrbanya, berhasil memboyong Silver Award (Juara 2) bersama teman-temannya dari Unila dan Itera, yaitu Anastasia Citra Negara (FT Unila), M. Raffi Firdaus (FT Itera), Khadijah Raihan (FEB Unila), dan Anggelene Cornelia Siregar (FEB Unila).

Pria hitam manis, berkacamata, bertubuh ramping, dengan tinggi badan 165cm kelahiran Bekasi bulan Maret 2006 merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara buah hati Bapak W. Ginting dan Ibu Rohani Sembiring. “GDIID ini diikuti oleh 4 negara di Asean, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam”, jelas Arel. Lomba international science dan technology dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap penyusuan paper inovasi dan tahap pengiriman vidio. Dalam tahap awal, paper yang mereka susun bertema “Neurotaste: A Wearable Tongue Interface for Electrical Taste Simulation in Dietary and Medical Applications”. Paper ini merupakan inovasi tentang pembuatan alat bantu elektronik berbasisi android bagi pengidap penyakit diabetes yang pantang dengan makanan rasa manis dan rasa gurih.

Setelah paper lolos seleksi, tahap berikutnya adalah pengiriminam vidio tentang tata cara penggunaan alat tersebut. Melalui alat ini pengidap penyakit diabetes akan dapat merasakan rasa misalnya manis dan gurih, tanpa harus mengkonsumsi makanan manis dan gurih. “Alat ini di pasang pada lidah pasien yang terhubung ke perangkat elektronik pengatur rasa”, jelas Arel. Setelah di pasang di lidah, alat ini akan berperan mengaktifkan syaraf-syaraf perasan manis, asin, gurih, dll pada lidah pasien. Melalui inovasi alat elektronik ini, pasien dapat memilih rasa yang diinginkan melalui ponsel berbasisi android. Apabila rasa manis di pilih melalui melalui ponsel berbasisi android, maka lidah pasien akan merasakan rasa manis tanpa harus mengkonsumsi makanan manis.

Sebaliknya jika kita memilih rasa asin melalui ponsel android tersebut, maka lidah pasien juga akan merakan asin tanpa harus mengkonsumsi makanan asin. Terpisah, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis menyampaikan apresiasinya terhadap prestasi internasional ini. “Prestasi ini semakin mendukung upaya kami mengimplementasi Akreditasi UNGGUL – BAN PT dan Akreditasi Internasional FIBAA (Foundation for International Business Administration Accreditation) yang telah kami raih sejak tahun 2022”, tegasnya.