Arel dan Tim Kembali Memboyong Juara Silver Medal Di Kuantan International Invention and Innovation Challenge Dari Kolej Vokasional Kuantan dan Digit360 Malaysia

Tahun 2025 benar-benar merupakan tahun prestasi tingkat internasional bagi civitas akademika Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis FISIP Unila. Again and again…, untuk kedua kalinya, Azareel Cristian Caesar Ginting (2416051004) bersama timnya berhasil mengukir prestasi internasional dengan memperoleh Silver Medal dalam Kuantan International Invention and Innovation Challenge (KI3C) yang diselenggarakan oleh Kolej Vokasional Kuantan dan Digit360, Malaysia pada 30 Oktober 2025. Sebelumnya Arel, panggilan akrabnya, juga telah mengukir prestasi dengan memperoleh Juara 2 (Silver Award) pada International The 4th Graduate Digital Invention, Innovation & Design (GDIID) dari Faculty of Computer and Mathematical Sciences, Universiti Teknologi MARA Cawangan Terengganu, Malaysia pada 1 Juli 2025.

KI3C 2025 ini merupakan ajang lomba inovasi internasional bagi mahasiswa untuk memamerkan penemuan berbasis AI (artificial intelligence) dan teknologi lainnya yang bertujuan mendorong kreativitas, kolaborasi, dan pengakuan bagi para innovator dari berbagai institusi dan perusahaan rintisan. Arel berhasil memboyong Silver Medal (Juara 2) bersama teman-temannya dari Unila dan UGM, yaitu Anastasia Citra Negara (FT Unila), Asha Diarti (F-Farmasi UGM), William Sahala Natanael Marpau (FT Unila), Anggun Azqiyah Azzahra (FT Unila), dan Eugenia Grasela Maia (FT Unila). Lomba inovasi dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu penyusunan paper dan pengiriman vidio tutorial. Arel dan kawan-kawan mengajukan paper tentang inovasi teknologi yang berjudul “ECOBIN: IoT-Based Smart Waste Monitoring System”. Paper ini memperkenalkan teknologi IoT (Internet of Thing) untuk memprediksi jumlah sampah yang ada dalam tempat sampah. “Jika sampah sudah penuh, maka sensor akan mengirim informasi ke petugas sampah untuk di angkut”, jelas Arel.

Perangkat ECOBIN ini berisi sensor ultrasonik dan ISP 32 yang berfungsi mengukur tingkat kepenuhan tempat sampah. Sensor ultrasonik dan ISP 32 akan mengirim informasi ke dashboard petugas sampah secara real time. Apabila dashboard memberi informasi bahwa tempat sampah sudah penuh, maka petugas sampah akan segera mengambil sampah tersebut. “Teknologi ECOBIN ini akan membantu kita semua agar terhindar dari penimbunan sampah,” jelas Arel.

Setelah paper lolos, peserta diminta presentasi dalam bentuk vidio tentang pengguna perangkat ECOBIN tersebut. Setiap peserta/anggota dari kelompok ECOBIN ini memperoleh tugas presentasi berbeda-beda. “Saya bertugas mempresentasikan prinsip-prinsip dasar dan cara kerja ECOBIN”, jelas Arel. Anggota ECOBIN yang lain juga mempresentasikan bagian lain yang berbeda dalam bentuk video. Presentasi menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris.

Selanjutnya video-video presentasi tersebut dikompilasi menjadi satu video utuh berisi tata cara penggunaan ECOBIN. Terpisah, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis menyampaikan rasa bangganya atas prestasi internasional ini. “Ini kedua kalinya Arel menorehkan prestasi internasional. Prestasi ini sangat membantu kami dalam mempertahankan Akreditasi UNGGUL – BAN PT dan Akreditasi Internasional FIBAA yang kami miliki”, jelasnya.